Tuturan Id – Ketua Umum Partai Demokrat, Yudhoyono atau , menyampaikan keprihatinannya atas ancaman kemunduran demokrasi Indonesia yang semakin mengkhawatirkan.

Dalam sebuah acara Fisipol Leadership Forum di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (21/7/2023), menyoroti tentang peristiwa pembegalan Partai Demokrat oleh lingkaran kekuasaan dalam dua tahun terakhir, yang menjadi contoh nyata dari kemunduran demokrasi di negara ini.

“Saat ini, kita menghadapi ancaman serius terhadap demokrasi kita. Satu contoh nyata kemunduran demokrasi terjadi ketika muncul upaya pembegalan Partai Demokrat oleh lingkaran kekuasaan yang terjadi dua tahun terakhir oleh tangan kekuasaan,” ujar dalam forum tersebut.

Partai Demokrat telah digoyang oleh isu pengambilalihan melalui Kongres Luar Biasa (KLB) sejak tahun 2022. Sejumlah kelompok dalam partai mendesak pergantian dan mengusulkan nama Moeldoko sebagai pengganti yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum.

Perselisihan ini menyebabkan partai terancam terbelah, dan proses KLB kepengurusan Partai Demokrat pun masih berlanjut hingga saat ini.

Mengenai isu tersebut, AHY menyampaikan sindiran yang relevan dengan dinamika yang dialami partainya. Ia juga memberikan peringatan agar berhati-hati terhadap praktek kekuasaan semena-mena yang dapat mengancam stabilitas demokrasi.

“Jangan sampai terjadi lagi. Kalau Partai Demokrat bisa diberlakukan seperti ini, artinya siapa pun juga bisa dilakukan seperti ini,” kata dia.

Lebih lanjut, AHY juga mengajak semua pihak khususnya generasi muda untuk tidak takut bicara dan menyuarakan pandangan mereka untuk kemajuan Indonesia. Dalam acara di UGM tersebut, dia mengungkapkan bahwa kebebasan bersuara adalah oksigen dari demokrasi itu sendiri.

“Di sini lah kita harus mengembalikan situasi agar tidak ada lagi yang takut berbicara di negerinya sendiri. Dari UGM ini saya mengajak, teman-teman semuanya untuk berani menyampaikan apa yang kita anggap baik untuk Indonesia. Jangan takut dibungkam, jangan takut bersuara,” tegas AHY.

Dia juga menyoroti kemunduran demokrasi di Indonesia selama pemilihan kepala daerah, di mana terjadi dominasi calon pemimpin yang memiliki banyak uang, bukan karena kapasitas dan integritas.

AHY menyatakan bahwa demokrasi seharusnya tidak hanya menjadi ajang kontestasi isi tas, tetapi harus memilih pemimpin berdasarkan kapasitas dan kualitas mereka.

Mengakhiri pidatonya, AHY menegaskan pentingnya menjaga pengawasan kekuasaan agar tidak menjadi kekuasaan mutlak yang menindas. Ia berharap Pemilu 2024, yang akan berlangsung kurang dari tujuh bulan lagi, menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.

“Kita harapkan demokrasi kita semakin baik karena demokrasi sebuah panjang sebagai sebuah bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang semakin maju dan sejahtera,” pungkas AHY.

Acara Fisipol Leadership Forum yang dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kampus di Yogyakarta tersebut juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk Wakil Rektor UGM Arie Sujito dan Dekan Fisipol UGM Dr. Wawan Mas'udi.

Dari pihak Partai Demokrat, Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng dan Bendahara Umum Partai Demokrat Renville Antonio turut hadir dalam acara tersebut.