– Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengungkap serentak 2024 menjadi dengan durasi waktu paling singkat dengan jumlah daerah pemilihan paling banyak dan jumlah pemilih terbesar di ketiga setelah India dan Amerika Serikat.

Pernyataan ini disampaikan KPU, Hasyim Asy'ari dalam sambutan acara Penandatanganan Kontrak Payung Konsolidasi Pengadaan Logistik Tahun 2024 Tahap I di kantor LKPP, Jakarta.

Menurutnya, penyelenggaraan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Karenanya, KPU harus membuat perencanaan yang rigid, cermat, jangan sampai ada yang terlewat, termasuk dalam hal ini penentuan logistik, ujarnya.

“Logistik 2024 harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip tepat jenis, tepat jumlah, tepat kualitas, tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat biaya,” tutur Hasyim Asy'ari dikutip dari laman resmi KPU, Kamis (21/9/2023).

Hasyim mencontohkan, misalnya jika jumlah pemilih baik di dalam maupun luar negeri ada sekitar 204 juta, maka cetak surat suara yang diadakan adalah sebanyak jumlah pemilih DPT + 2 persen, jelasnya.

Tapi DPT ini bukan DPT yang 204 juta gelondongan, nggak, tapi dikalikan. Ini kan angka nasional dikalikan jumlah pemilih dari dua persennya itu, enggak ada di situ, tapi DPT per TPS, terangnya.

“Maka, kami punya data DPT di TPS yang jumlahnya 820.000. Itu berarti ada 820.000-an baris yang kemudian jumlah DPT-nya dikalikan 2 persen, jadi tidak gelondongan, sehingga ini salah satu contoh ya betapa harus cermat dan harus sudah sampai TPS itu H-1 sebelum hari pemungutan suara,” sebutnya.

Provinsi kita ada 38, tapi untuk Yogjakarta tidak ada karena yang jadi gubernur raja. Kemudian untuk 514 serentak di waktu yang sama, ungkapnya.

Satu hal yang membedakan Pemilu 2024 dengan pemilu sebelumnya adalah bahwa di tahun yang sama akan ada Pilkada serentak untuk memilih gubernur di 37 provinsi, pungkasnya.