Tuturan id – Hampir sebahagian besar - Politik saat ini ramai merekrut para artis-artis ternama baik dari kalangan bawah hingga artis papan atas untuk menjadi partainya.

Tidak dipungkiri kemampuan yang dimiliki artis dalam maraih simpati terbilang cukup moncer dan instant, sehingga tidak sedikit dari para artis ini akhirnya berhasil menang dalam kontestasi politiknya hingga kini telah menempati kursi-kursi parlemen.

Namun seberapa besar integritas dan gagasan yang dimiliki oleh mereka dalam kepemimpinan dan mewakili suara rakyat?, masih efektif kah kadernisasi yang ada di internal partainya?

“Faktanya, tidak sedikit Politik hari ini  masih terbilang minus integritas, tidak adanya kadernisasi yang ketat di politik, sehingga siapapun yang punya popularitas tinggi di social media maka akan di dorong oleh PARTAI POLITIK nya, Makanya hari ini itu kemudian hanya pintar membangun citra tapi tidak mempunyai gagasan untuk Pembangunan.” ujar salah satu aktivis pemuda Selatan Ali Imran kepada Tuturan, Sabtu (20/05/2023)

“Kapan kita punya Wakil Rakyat dan yang berkuliatas kalo yang duduk di parlemen itu bukan leader?,” pungkas Ali Imran.

Sementar itu Direktur Eksecutive Officer ARCHI Research and Strategy Mukhradis Hadi Kusuma kepada tuturan.id juga memiliki pandangan terhadap fenomena artis politika ini.

“Kepemimpinan saat ini kita akui lahir dari rahim partai politik dan itu diakui oleh konstitusi, pertanyaan mendasar apakah partai politik saat ini bisa menghasilkan kader terbaik dari sistem kaderisasi internal mereka?, mengingat tidak sedikit seorang leader saat ini terlahir dari popularitas semata tanpa diketahui bagaimana kadernisasi internal dirinya, inilah pertanyaan yang harus kita jawab bersama-sama,” ujar Mukhradis.

“Partai politik harusnya menjadi corong utama untuk melahirkan seorang kader, dan tidak menjadikan popularitas itu untuk menjadikan pijakan utama untuk dijadikan sebagai kader, tetapi partai politik lah yang menunjuk seorang kader dam memberikan label kader itu adalah seorang leader yang terbaik” jelas Mukhradis.

“Harapan saat ini memang hanya berasal dari partai politik, bukan tanpa sebab, pertama karena demokrasi kita lahir dari perjuangan para tokoh bangsa.” tambahnya.

Dari poin tersebut harapan besarnya adalah, melalui internal kaderisasi partai politik diharapkan untuk melahirkan kadernisasi yang dapat menggawangi legislatif dan kepemerintahan.

“Nah, jika suatu partai politik tidak memilikinya amunisi untuk mendapatkan kader terbaik dan hanya mengharapkan dari sistem kepopuleran semata dari publik, maka itu merupakan tanda kegagalan dari demokrasi kita” pungkasnya.

“Sehingga kedepan diharapkan partai politik benar-benar diharapkan dapat menjadi mesin kaderisasi yang dapat menciptakan kader-kader unggul dan berkualitas untuk bangsa ini,” tutup Mukhradis.****